AKU
mengenali
sosok yang sedang mangayuh jukung menuju arah tumpakan tempatku menunggu.
“Mil, kamu sudah siap?” tanyanya sambil
melambaikan tangan.
“Sudah dari tadi,” jawabku sambil merapikan
rokku yang kusut.
Fadli tertawa. Jukungnya mulai mendekat.
Aku bersiap melompat. Sepatu sandalku yang berhak lumayan tinggi hanya
kutenteng di tangan. Aku tak berani ambil resiko, melompat dengan memakainya.
Salah mendarat, aku bias terpeleset, dan masuk ke sungai. Alamat pakaian
terbagus yang kupunya ini akan basah kuyup. Padahal aku selalu berhati-hati
menjaganya. Jarang kupakai kecuali pada saat-saat istimewa. Seperti saat ini.
Hari ini hari istimewa bagi kami berdua.
Tepatnya tiga tahun lalu aku dan Fadlibersepakat untuk menjalin cinta, saling
saying dan saling setia. Kalau tahun-tahun yang lalu kami tak pernah
merayakannya. Maklum, kami bukan golongan orang-orang yang setiap tahun selalu
merayakan hari-hari istimewa mereka. Kami Cuma penduduk kampong yang sederhana.
Bagi kami uang dan waktu sama berharanya. Sayang bila dihamburkan untuk hal-hal
yang tidak jelas manfaatnya.
Walaupun demikian, sesekali kami ingin juga
melakukan refreshing. Terlepas dari kerutinan tugas sehari-hari. Setiap hari
bergulat dengan cucian berbakul-vakul, membuatku bosan juga. Kerjaku memang
mencucikan pakaian orang lain sekaligus menyertrikanya. Kerja yang sangat
melelahkan memang. Tapi hanya itu keahlianku sebagai tamatan SMP.
Setiap hari, pagi-pagi sekali aku
berkeliling ke rumah para langganan, mengambil cucian mereka yang
berbakul-bakul. Membawanya ke rumah, mencucinya di Sungai Martapura. Lalu
menjemurnya di tali-tali jemuran yang terbentang di sekitar rumahku. Beruntung,
di daerah pinggiran Sungai martapura ini matahari biasa bersinar terik,
terutama pada musim kemarau, dan angin yang berhembus cukup kencang ikut
membantu mengeringkan pakaian-pakaian itu dengan cepat. Setelah kering, aku
menyetrikanya dengan setrika arang peninggalan orangtuaku.
Hasilnya lumayanlah, bias bantu mengepulkan
asap dapur kami dan membantu biaya sekolah adik-adikku yang lima orang. Aku
anak tertua. Bapak meninggal ketika adik-adikku masih sangat kecil. Sedang ibu
sudah kerepotan mengurus rumah tangga sekaligus mengurus adik-adikku yang
sedang nakal-nakalnya. Jadi akulah satu-satunya tmpuan harapan. Beruntung, dua
asikku yang sudah agak besar ikut membantu. Yang laki-laki menjadi loper Koran,
yang perempuan berjualan kue.
Kebetulan hari ini, pakaian kotor yang
diberikan langgananku tidak sebanyak biasanya. Aku bekerja lebih pagi agar
cepat selesai. Sedang untuk menyetrikanya, Itah, adikku menyanggupi
mengerjakannya sendiri. Aku senang, ternyata dia bias mengerti keinginanku.
Setelah pekerjaanku selesai, aku cepat bersiap dan menunggu kedatangan Fadli,
yang akan menjemputku untuk berjalan-jalan keliling kota.
“Wah, kamu cantik sekali, Mil!” puji Fadli
sambil memandangku kagum.
Aku tersipu. Sebenarnya aku ingin memuji.
Dia juga tampak gagah hari ini. Agaknya dia pun memakai pakaian terbagusnya,
celana jeans hitam dan kemeja biru kotak-kotak. Rambutnya disisir klimis. Rapi
sekali. Tak seperti biasanya yang selalu berantakan dan seadanya.
“ayo kita pergi!” kataku.
Fadli mengangguk. Aku melompat ke jukung,
dan duduk di bagian tengah. Kami duduk berdahapan. Fadli berceloteh, bercerita
tentang pekerjaannya sebagi buruh di sebuah pabrik lampit. Aku diam saja. Bukan
karena mendengarkan ceritanya, tapi aku melihat gayanya bercerita. Kocak!
Cerita yang sebenarnya tidak lucu pun menjadi sangat lucu bila Fadli yang
bercerita. Mungkin itulah yang membuatku jatuh cinta padanya. Bersama Fadli,
hidup yang berat dank eras ini terasa ringan dan menyenangkan.
“Kamu melamun saja, Mil. Kita sudah hamper
sampai, nih.”
Aku menoleh ke belakang. Benar, banguan
Mitra Plaza sudah terlihat dari sini. Memang ke sanalah tujuan kami, salah satu
plaza yang paling banyak dikunjungi orang. Sebenarnya ada beberapa plaza lagi
di kota ini, tapi paling popular adalah Mitra Plaza. Mungkin karena di sini
lebih lengkap, took-tokonya komplit, dari department store sampai supermarket,
dari took kaset sampai took buku, bahkan ada bioskop dan taman bermain anak
segala. Tidak heran bila setiap hari Plaza ini selalu diserbu ratusan orang,
yang ingin belanja ataupun yang hanya sekedar ngeceng, melihat-lihat sambil cuci
mata. Seperti kami saat ini. Walau bagaimanapun, barang-barang yang dijual di
sana masih di luar jangkauan kantong kami.
Kami sudah mendekati bangunan.
“Kita tambatkan jukung di sini saja!” kata
Fadli sambil berhenti tepat di bawah jembatan Sudimampir.
Kami pun naik. Mitra Plaza ini memang
didirikan di daerah pinggiran Sungai Martapura, sebelum jembatan Sudimampir.
Kulihat banyak orang di bagian mainan anak-anak yang terletak paling pinggir,
dekat sungai. Rupanya, walau masih siang, ada saja orang tua yang membawa
anaknya bermain-main di sini. Apalagi sore nanti, saat orang-orangtua punya
waktu banyak untuk menamni anak-anaknya bermain.
“Ayo, kita langsung naik saja!” fadli
menggamit tanganu, mengajakku naik lewat escalator alias tangga berjalan. “Kita
lihat-lihat ke lantai paling atas dulu.”
Aku mengangguk, dan mengikuti langkahnya.
*** Bersambung ke bagian berikutnya, ya...! ***

No comments:
Post a Comment
Mohon berkomentar secara bijak dan santun.