Wednesday, November 7, 2018

Pilihan Karin (Bagian 1)


SEMUA yang sedang pemanasan di tengah lapangan basket menoleh, ketika sebuah Honda civic hijau lumut mulus memasuki parkiran di samping lapangan. Karin yang berada di dalam merasakan pandangan mereka menghujam. Bagai ribuan jarum merajam seluruh tubuhnya.
Terlebih ketika Hans membukakan pintu mobil, ala pangeran mempersilakan putri turun dari kereta kencana. Dia juga membawakan tas jinjingnya yang cuma berisi handuk kecil dan Aqua.
“Hans, aku ke mereka dulu, ya!” bisik Karin setengah jengah.
“Ya. Aku ke sana.” Hans menunjuk pojok lapangan.
Karin mengangguk. Dia terus, sementara Hans berbelok.
Teman-temannya pura-pura sibuk lagi, ketika tahu Karin menuju ke arah mereka. Enny asyik mendrible bola. Ratna menghalang-halangi, berusaha merebut bola. Susi menggoyang-goyangkan tubuh sambil menghitung perlahan. Mimi mengikuti gerakannya. Mereka tidak mempedulikan kedatangannya.
Karin mendesah. Ada yang mengganjal di dadanya. Sakit! Membuat sesak napasnya. Dia bukannya tidak tahu apa yang membuat teman-temannya bersikap demikian. Kedatangannya bersama Hans.
“Hai, Karin!” Amara muncul dari balik ring basket. “Kok, cepat banget datangnya? Ketemu Dicky di jalan, ya?”
“Dicky?” Kening Karin berkerut.
“Iya. Wah, kasihan, lho! Tampaknya dia lagi suntuk berat. Kamu apain sih, Rin?”
Karin menggeleng galau. Dia masih belum mengerti.
“Tadi ketika baru datang, kulihat Dicky sendirian di lapangan ini. Ngubek-ngubek bola basket. Dia nggak pulang ke rumah sejak bubaran sekolah, ya? Seragamnya sampai basah kuyup mandi keringat. Tasnya juga dibiarkan saja tergeletak di tengah lapangan.”
Amara bercerita tanpa menghiraukan wajah Karin yang berubah nada.
“Ketika aku datang, dia kaget. Tanya jam berapa. Kujawab, jam tiga lebih. Dia langsung cabut. Katanya, mau jemput kamu.”
“Aku?” Karin menunjukkan dadanya sendiri. “Dicky menjemputku?”
“Lha, iya!” Ganti Amara yang heran. “Emang nggak ketemu? Kamu ke sini sama siapa?”
“Itu, tuh!”
Bukan Karin yang menjawab, tapi Ratna. Matanya melirik ke sudut lapangan di mana Hans sedang duduk menunggu. Amara ikut melirik.
“Oh!”
Hanya itu yang keluar dari bibir Amara. Tatapannya berubah, senada dengan suaranya. Lalu dia pun tidak mengacuhkan Karin lagi. Bergabung dengan temannya yang lain.
Sekali lagi Karin mendesah. Dadanya tambah sesak.
“Aku ganti dulu, ya!” pamit Karin kemudian.
“Ya!”
Alangkah dipaksakannya jawaban itu. Karin bergegas pergi dari hadapan mereka, menghampiri Hans yang duduk di pojokan. Tapi ia masih merasakan tatapan dingin teman-temannya terus mengikuti langkahnya.
Karin tidak bisa menyalahkan mereka. Karin tahu, mereka cuma memprotesnya. Mereka lakukan itu karena membela Dicky. Mereka mengira Karin telah berpaling dari Dicky.
Dicky? Jadi cowok itu masih mau menjemputnya? Tiba-tiba saja Karin menyesal, mengapa memenuhi ajakan Hans yang lebih dulu menjemputnya. Kalau saja tidak, tentu saat ini dia berangkat dengan Dicky. Lalu perlahan-lahan, berusaha menjernihkan persoalan.
Karin yakin pasti bisa. Dicky cowok yang baik. Dia lembut dan penuh pengertian. Tadi siang dia hanya emosi. Dan biasanya cuma sebentar. Emosi itu akan dia tumpahkan di lapangan basket. Setelah itu akan reda dengan sendirinya. Buktinya, Dicky sudah mau kembali menjemputnya.
Tapi aku bodoh, maki Karin dalam hati. Malah pergi dengan Hans. Bagaimana nggak tambah berantakan?
Semua ini gara-gara Hans! Karin melirik cowok itu geram. Tapi Hans yang merasa dilirik malah memamerkan senyum. Mau nggak mau, Karin balas tersenyum. Walau terpaksa.
Karin membuka celana jeans-nya di kamar kecil. Kemudian keluar lagi dengan mengenakan celana pendek sport.
“Latihan yang bagus!” kata Hans sebelum Karin kembali melangkah ke tengah lapangan.
Lagi Karin tersenyum. Walau dalam hati gondok setengah mati. Dia kaget, ketika bergabung dengan teman-temannya. Di sana ada Dicky yang sudah mengenakan pakaian olahraganya.
Dicky menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Karin menggigit bibir.
“Tadi aku jemput kamu,” Dicky berbisik teramat pelan.
Karin ingin menangis mendengarnya. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Mas Yo, pelatih mereka tiba. Mereka mulai pemanasan dan latihan.
Seringkali Karin ditegur. Dia sering melakukan kesalahan. Semangat latihannya amblas entah ke mana. Konsentrasinya buyar tak tentu rimba.
Karin tahu. Dicky memperhatikan keganjilannya. Tapi cowok itu diam saja. Tidak seperti biasanya, dia lebih sering melatih Susi atau Mimi, atau yang lainnya. Asisten Mas Yo itu selalu menghindarinya,
Karin mendesah.
*** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***

Friday, November 2, 2018

Seuntai Maaf, Segumpal Sesal (Bagian 1)


Denting piano saat jemari menari
Nada merambat pelan di kesunyian malam
Saat datang rintik hujan bersama sebuah bayang
Yang pernah terlupakan

JARUM-JARUM air menghujam bumi. Mulanya jarang-jarang, lama-lama semakin berkembang. Dari ratusan menjadi ribuan, puluhan ribu, bahkan jutaan, dan akhirnya tak terhingga. Angin dingin pun mulai berhembus. Menusuk pori. Menembus tulang.
Kurapatkan restleiting jaketku dan menjauh dari jendela. Namun pandanganku tak beranjak, tetap menekuri senja yang perlahan turun bersama guyuran hujan. Sementara gendang telingaku sayup-sayup menangkap alunan piano mengiringi nyanyian air.
Sempurna, desahku lirih. Hujan dan suara piano membuat hati yang penuh luka kian nelangsa. Hawa dingin yang menusuk membuat luka semakin perih. Suara piano yang mendayu membuatku semakin sendu.
Tak tahan, kututup jendela rapat-rapat dan beranjak menuju dipan. Namun dari balik dinding kamar, suara Iwan Fals bersenandung melantunkan penyesalan. Pasti Ryan, tetangga kosku yang memutarnya. Tapi aku turut larut di dalamnya.
Tiba-tiba selintas nama terbersit. Sekelebat bayangan muncul begitu saja. Perlahan benakku menyusun sesosok dari serpihan kenangan. Semula samar. Lama-lama semakin jelas. Membuatku sempat tertegun bingung. Mengapa sosok itu? Bukankah ratusan hari lalu telah terhapus dari benakku? Kenapa bisa mendadak menyeruak ingatanku?
Sosok itu terlukis nyata. Rambut lurus melewati bahu, agak kecoklatan. Wajah oval dengan bibir tipis dan lesung pipit yang selalu mengiringi saat bibir itu melengkungkan senyum. Aku bahkan nyaris lupa betapa manisnya senyum itu.
Aku mendesah. Mungkinkah perasaanku yang mendayu-dayu akibat luka yang mengharu-biru menyeret kembali sosok ini dari memori yang mulai terkubur waktu? Yah, mungkin saja. Karena bukan dia yang menyebabkan luka. Sebaliknya, ratusan hari yang lalu, luka yang sama pernah kugoreskan di kelembutan hatinya. Luka yang disebabkan sebuah pengkhianatan dan kebohongan.
Apakah ini yang dinamakan karma? Bumerang yang pernah kulemparkan kini berbalik melukaiku. Sungguh balasan yang setimpal! Seperih ini jugakah luka yang dirasakannya dulu? Segetir inikah rasa sakit itu?
Penyesalan tiba-tiba berdentaman di dadaku. Mengapa baru sekarang? Padahal setelah melukainya, ringan saja kuberpikir waktu akan segera menyembuhkannya. Tak ada penyesalan apalagi maaf yang terucap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan ketika lingkungan mulai memojokkanku, dengan enteng aku melangkah pergi, melarikan diri.
Ah, seandainya ratusan hari yang lalu aku tak pernah menggoreskan luka dengan belati kebohongan dan pengkhianatan, mungkinkah sekarang aku tak merasakan perihnya luka itu? Mungkin begitu. Karena bukankah berarti sampai sekarang aku akan tetap bersamanya?
Aku meremas rambutku gusar. Berusaha mengusir berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalaku. Tapi rasanya tetap melekat. Bayangan itu semakin nyata. Bahkan bagai proyektor yang memutar ulang kenangan ratusan hari yang lalu. Aku seperti menonton sinetron di mana aku berperan sebagai tokoh antagonisnya.
*** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***